Sejak kapan mengawali usaha handicraft?
Sejak kuliah D3 Bahasa Inggris di Universitas Brawijaya, Malang. Saat itu usaha yang saya lakukan masih kerja sambilan. Sejak tahun 2003, saya baru serius.

Mengapa tertarik menekuni dunia usaha?
Jujur saja, semua ini berawal dari keadaan. Saya adalah anak tunggal. Ayah sudah meninggal sejak saya kecil. Ibu saya, Suharti (58), harus berjuang sendiri untuk menghidupi keluarga. Dengan latar belakang pendidikan rendah, Ibu berjuang keras dan bekerja apa saja. Mulai dari  buruh cuci sampai pekerja kasar di pabrik. Ibu ingin saya mendapatkan pendidikan yang cukup. Tentu, saya pun demikian.

Selepas SMA saya melanjutkan ke perguruan tinggi. Persoalannya,  kondisi keuangan sangat terbatas, sehingga saya harus hidup dengan sangat sederhana. Percaya atau tidak, dalam seminggu saya hanya dijatah Rp 16 ribu. Uang itu sudah termasuk untuk makan, bayar kos, foto kopi, dan sebagainya.

Bisa dibayangkan betapa standar hidup saya sangat rendah. Sehari-hari saya jarang makan nasi. Untuk mengganjal perut, saya makan tiwul yang sebungkus harganya Rp 500 atau makanan murahan lainnya. Untuk kos, supaya murah saya rela menempati gudang ukuran 1×2 meter beralas tikar.

Anda tetap semangat?
Tentu. Di sela-sela kuliah saya bekerja apa saja supaya kuliah tetap jalan. Saya rela  jadi volunteer di Akademi Manajemen Indonesia (AMA). Saya tak masalah meski tak dibayar. Yang penting dapat makan dan dapat mendengar serta berkenalan langsung dengan ahli manajemen atau motivator terkenal. Itu yang membuat pikiran saya terbuka.

Sampai suatu saat, saya memulai langkah untuk berkreasi di handicraft. Saya belajar dari sahabat saya, Sonya.  Modalnya dari om saya sebesar Rp 50 ribu. Sebenarnya, uang itu hadiah untuk membeli baju Lebaran. Namun saya gunakan untuk membeli bahan-bahan kerajinan seperti karton, lem, dan sebaginya.

Saya memadukannya dengan bahan kertas daur ulang dan daun kering yang saya pungut di kampus. Koran bekas itu saya olah dengan cara direndam dan diblender

Lalu kerajinan apa yang Anda buat?
Semua bahan tadi saya rangkai menjadi aneka kerajinan lucu dan unik. Misalnya pigura, notes, buku telpon, dan kerajianan sederhana lainnya. Aneka kerajinan tadi saya jual ke teman, tetangga, atau siapa saja. Alhamdulillah bisa berjalan.Usaha ini sempat berhenti karena saya menikah dan punya anak. Tahun 2003, saya bangkit lagi.

Karena belum ada modal, saya memodifikasi  barang apa saja yang ada di rumah. Misalnya di rumah Ibu ada cermin usang dan kacanya retak. Cermin itu tidak saya buang, tapi saya perbaiki. Misalnya, kacanya saya ganti. Lalu, bingkai yang sudah pudar saya lapisi dengan pasir laut. Usaha saya tidak sia-sia. Dengan perjuangan keras akhirnya makin besar. Saya berhasil membuat beragam jenis kerajinan yang melibatkan banyak karyawan. Dari sana pula saya mengikuti berbagai pameran di mana-mana dengan menggunakan nama De Tanjung.

Kabarnya saat itu sudah mulai mewaralabakan karya Anda?
Betul, setelah berkembang saya mewaralabakan karya saya. Pada awalnya berjalan baik. Ada beberapa daerah seperti Batam, Kalimantan, Palu, dan beberapa daerah lainnya. Setelah sekian tahun berjalan, saya memutuskan stop dan saya alihkan menjadi jenis business opportunity (BO).

Kenapa?
Ternyata sistem waralaba tidak pas untuk jenis usaha ini.  Sebab, kerajinan yang saya kembangkan di sini belum tentu cocok untuk dikembangkan oleh pembeli franchise di daerahnya. Jenis BO lebih cocok. Saya hanya mengajari teknik dasar pembuatan kerajinan sekaligus mengirim barang setengah jadi. Mereka sendiri yang mengembangkannya. Alhamdulillah, sekarang berjalan dan jumlahnya makin bertambah banyak.

Selain menjual BO, apakah juga membuat kerajinan untuk dijual?
Iya. Penjualan di rumah justru  lebih besar. Saya sekarang memiliki 30 orang pekerja yang bekerja di rumah masing-masing. Di kantor ada 5  karyawan tetap serta 8  karyawan training.

Kini, apa fokus usaha kerajinan Anda?
Sejak tahun 2009 saya  saya fokus membuat kerajinan yang berkaitan dengan perkawinan. Saya memproduksi undangan, kemasan seserahan, suvenir, dan sebagainya. Saya bersyukur semua berjalan lancar dan makin hari makin banyak pelanggan.

Oh ya, sudah sering mendapat penghargaan dari berbagai lembaga, ya?
Betul. Tahun 2010 saya mendapat penghargaan Wira Usaha Mandiri, tahun 2011 masuk finalis E-IDE yaitu wirausaha berbasis lingkungan, serta CEC-GEF wirausaha berbasis komunitas. Keduanya diadakan oleh British Council. Lalu pada Januari 2012, saya satu di antara delapan wanita dari Indonesia yang selama dua minggu mengikuti 10.00 Women Global Cohort, di Arizona, USA.

Selain sebagai pengusaha handicraft, apa kegiatan Anda sehari-hari?
Sesekali saya jadi pembicara di berbagai kegiatan wirausaha, memberi training membuat kerajinan kepada ibu-ibu termasuk memberi pelatihan pada para narapidana di LP Wanita Lowokwaru, Malang. Obsesi lainnya, bila ada rezeki, saya ingin mengajak Ibu jalan-jalan keliling dunia. Bagi saya, Ibu segala-galanya. Beliau yang memberi semangat sampai saya bisa menjadi seperti sekarang ini.

Jurnalis : Gandhi Wasono M
Sumber : Tabloid Nova

Leave a Reply

Your email address will not be published.